Bandara Samarinda Baru / The New Airport of Samarinda

Welcome to Bandara Samarinda Baru

(BSB)

 

 SAMARINDA – Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, Menggelar seremonial peletakan batu pertama tanda dimulakan pembangunan sisi darat Bandara Samarinda Baru (BSB) di Sungai Siring Samarinda. Hadir dalam kesempatan itu Staf Ahli Menteri Perhubungan Bidang Regulasi dan Keselamatan Budi M Suyitno, Walikota Samarinda Syaharie Jaang, Wakil Walikota Samarinda Nusyirwan Ismail, Ketua Komisi III DPRD Kaltim H Syahrun, Ketua DPRD Samarinda Siswadi dan sejumlah pejabat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemprov Kaltim.

Desain Terminal Bandara Samarinda Baru

 ” KOTA SAMARINDA yang membuat kangen bagi yang sudah berkunjung ke Kota kami, Amplang Samarinda, Sarung Samarinda kesukaan para tamu”. 

 Samarinda kotaku tercinta, bermacam-macam suku dan agama jadi satu!!

Tempat Wisata Kota Samarinda

Jembatan Mahakam

Jembatan Mahakam adalah jembatan yang menghubungkan kota samarinda yang terbelah oleh aliran sungai mahakam!

di sekitar lokasi jembatan terdapat taman yang sangat indah, jembatan ini kita temukan ketika kita baru memasuki pusat kota samarinda..

 

Tepian Mahakam ( Wisata Sungai Mahakam )

Sungai mahakam merupakan alur sungai yang mengitari sebagian besar wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Barat, dan Kota Samarinda.
Aktivitas Sosial Budaya masyaraakt Samarinda dapat kita saksikan, seperti : pemanfaatan sungai sebagai sarana transportasi untuk angkutan penumpang dan barang, serta hasil bumi yang diperdagangkan antar pulau dan diekspor ke mancabegara melalui Pelabuhan Samarinda. Pemanfaatan sungai untuk mendukung kehidupan sosial sehari-hari sebagai nelayan, pedagang, ibu rumah tangga, pembuat kapal tradisional, dan lain-lain.
Bila malam hari dapat pula disaksikan dan dinikmati jagung bakar, dan beberapa warung makan lainnya di sepanjang bantaran tepian mahakam ini.

Kawasan tepian Mahakam selain menjadi obyek wisata air, juga diusulkan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak sebagai wadah mendukung komitmen nasional mengurangi emisi gas karbon 26 persen hingga 2020, yakni area tersebut bebas dari kendaraan bermotor.

 

Wisata Rohani

Islamic Centre

Masjid Islamic Center Samarinda adalah masjid yang terletak di kelurahan Teluk Lerong Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia, yang merupakan masjid termegah dan terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Masjid Istiqlal. Dengan latar depan berupa tepian sungai Mahakam, masjid ini memiliki menara dan kubah besar yang berdiri tegak.
Masjid ini memiliki luas bangunan utama 43.500 meter persegi. Untuk luas bangunan penunjang adalah 7.115 meter persegi dan luas lantai basement 10.235 meter persegi. Sementara lantai dasar masjid seluas 10.270 meter persegi dan lantai utama seluas 8.185 meter persegi.

Masjid Raya Darussalam

Merupakan daya tarik wisata budaya yang terletak di tengah kota, pada dasa warsa tahun 60 70 an.
Sekitar awal tahun 1990 an, dilakukan pemugaran menyerupai sebuah masjid di salah satu tempat di Timur Tengah. Masjid dengan konstruksi beton ini berlantai tiga dan dapat menampung lebih kurang 14.000 jamaah, dilengkapi dengan taman kolam dan perpustakaan.

Masjid Sirotul Mustaqim

Ini adalah masjid tertua yang ada di kota Samarinda dan merupakan peserta terbaik II pada Festival Masjid-masjid Bersejarah Se Indonesia oleh Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia.

Masjid Sirotul Mustaqim, masjid tertua di Samarinda, seluruh konstruksinya dari bahan kayu…

 

 

Tempat Wisata di Balikpapan

Taman Bekapai Balikpapan

Adalah taman yang terletak tepat di Jantung Kota Balikpapan. Taman bekapai merupakan salah satu wujud kebangaan masyarakat Balikpapan sebagai Kota Minyak. Tepat di tengah taman ini terdapat sebuah patung perunggu lengkap dengan air mancurnya yang bila tertimpa sinar malam hari akan menimbulkan siluet laksana semburan minyak bumi.

Tatanan tempat duduk santai di lindungi pohon-pohon palem, dan kemudahan akses mencapai lokasi taman, menjadikan taman ini sebagai salah satu tempat ideal untuk para wisatawan beristirahat sejenak di saat berkeliling pusat Kota Balikpapan.

Melawai Balikpapan

Pantai Melawai masih berada di pusat kota, tepatnya tidak begitu jauh dari komplek Pertamina dan Pelabuhan Balikpapan dan berada di pinggir salah satu jalan protokolnya Balikpapan, Jln Sudirman.

Dan untuk menikmati sunset disini tidak usah bingung dengan perut atau tempat duduk, karena di sepanjang pinggir pantainya banyak cafe2 kecil yang menyediakan makanan2 kecil maupun minuman2, sehingga suasana romantis untuk menikmati detik-detik matahari tenggelam sangat mendukung sekali. Dan untuk menuju lokasi ini sangat mudah dan dilewati angkutan umum , angkot no 6(warna biru) dengan trayek ke Pelabuhan.

Pantai Kemala

Pantai Kemala. Lokasinya di jalan Sudirman. Di pantai itu ada Restoran Jimbaran. Memang nuansanya dibuat seperti di Jimbaran Bali, makan di pinggir pantai. Air lautnya tenang,  sehingga aman buat mereka yang mau berenang. Bukan buat tempat berselancar atau surfing, tapi kamu bisa bermain banana boat bersama teman-temanmu. Kamu juga bisa bermain olah raga di pasir pantai seperti sepak bola, bola voli, sepak takraw atau lempar-lemparan bola apa pun.

 

Waduk Bendali

Dinamakan waduk bendali karena di area ini difungsikan sebagai waduk pengendali banjir dan cadangan air kota balikpapan. Bagi anda yang senang memancing dan ingin melupakan sejenak kepenatan di kantor, mungkin anda bisa mengunjungi tempat ini. Meskipun bukan difungsikan sebagai tempat wisata, waduk bendali sangat menarik untuk dikunjungi penduduk balikpapan. Selain memancing, anda dapat menikmati suasana danau yang terlihat asri.

 

Taman Wisata Bukit Bengkirai

Kawasan Wisata Bukit Bengkirai terletak pada Km 38 jalan raya Soekarno Hatta Balikpapan Samarinda, merupakan kawasan wisata alam berupa hutan alami yang masih asli. Kawasan wisata alam ini berada di areal PT. Inhutani I Unit Manajemen Hutan Tanaman Industri (UMHTI) dan diresmikan pada tanggal 14 Maret 1998 oleh Mantan Menteri Kehutanan Ir. Djamalluddin Suryohadikusumo. Merupakan kawasan yang berperan penting untuk mengembangkan monumen hutan alam tropika basah.

Lokasi bukit bengkirai di km.38 masuk kiri kearah sepaku. dari simpang luar sekitar 10 km sampai ke simpang dalam.. dari simpang dalam, masuk kiri kearah bukit bengkirai sekitar 4 km.

 

Pantai Manggar

Pantai Manggar merupakan tempat untuk kegiatan rekreasi yang menyenangkan untuk bepergian seorang untuk untuk keluarga. Gelombang laut yang tidak begitu besar sangat pas untuk berenang, bermain perahu karet ataupun melakukan kegiatan air lainnya dengan jaminan rasa aman.

Air laut yang biru dengan hamparan pasir putih yang luas juga akan memanjakan mata Anda saat bersantai di bawah peohonan yang rimbun.

Pantai Manggar mudah dijangkau karena terletak sekitar 22 kilometer dari pusat kota Balikpapan atau 9 Kilometer dari Sepinggan.

 

Penangkaran Buaya, Teritip, Balikpapan

Penangkaran Buaya ini terletak di Kelurahan Teritip dengan luas areal 5 ha. Jumlah buaya yang ada di penangkaran iniberjumlah 3.000 ekor yang terdiri dari tiga macam jenis, yaitu Buaya Muara, Buaya Supit dan Buaya Air Tawar.Tempat ini terbuka untuk umum setiap hari dari pukul 08.00 – 17.00. Lokasi ini dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan Pribadi Baik itu roda dua atau empat, juga dengan kendaraan umum yaitu angkutan kota No. 7 dengan jarak 27 km dari pusat kota Balikpapan.


Sejarah Kabuten Pasir

SEJARAH SINGKAT KABUPATEN PASIR

Kabupaten Pasir secara geografis memiliki kedudukan yang cukup strategis, karena terletak diantara kabupaten dan kota propinsi yang ada di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Kedua daerah (propinsi) ini terhubung oleh jalan arteri primer atau jalan negara. Dengan letaknya yang strategis ini, maka kabupaten Pasir menjadi begitu penting artinya bagi pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di propinsi Kalimantan Timur pada khususnya dan pulau Kalimantan pada umumnya.

Dasar Hukum Pembentukan Kabupaten Pasir

Kabupaten Pasir dibentuk dengan Undang-Undang Nomor 27 tahun 1959 dengan ibu kotanya Tanah Grogot. Peringatan hari ulang tahun Kabupaten Pasir dilaksanakan pada setiap tanggal 29 Desember.

Letak Geografis

Kabupaten Pasir adalah adalah Kabupaten yang terletak paling selatan di wilayah Propinsi Kalimantan Timur dengan Ibukotanya Tanah Grogot, secara geografis terletak antara 00 45’18,37”– 20 27’ 20,82” LS dan 110 36’ 14,5” –1160 57’ 35” BT, berada pada ketinggian permukaan air laut antara 5 – 33 m dpl dan terletak dibagian Selatan Propinsi Kalimantan Timur. Secara administratif kabupaten Pasir memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :

  1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pasir Utara (Penajam), Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Balikpapan,
  2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Kota Baru (Kalimantan Selatan)
  3. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Tabalong (Kalimantan Selatan) dan Kabupaten Barito Utara (Kalimantan Tengah)
  4. Sebelah Timur berbatas dengan Selat Makasar

Luas Wilayah

Luas Wilayah Kabupaten Pasir adalah 14.937 Km2, dengan jumlah penduduk pada tahun 2000 adalah sebanyak 267.960 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk sebanyak 17,94 jiwa per km2.

Administrasi Pemerintahan

Kabupaten ini dibentuk dengan Undang-Undang Nomor 27 tahun 1959 dengan ibu kotanya Tanah Grogot. Kabupaten Pasir memperingati hari ulang tahunnya setiap tanggal 29 Desember. Dilihat dari wilayah administrasi pemerintahan, saat ini Kabupaten Pasir mempunyai 12 Kecamatan dan 156 Desa/Kelurahan dengan pertumbuhan ekonomi 3,14%.

Sejarah Terbentuknya Kabupaten Kutai Barat

Terbentuknya Kabupaten Kutai Barat, sesungguhnya sudah lama karena sejarah mencatat bahwa, Di Barong Tongkok pernah dibentuk KEWEDANAAN pada tanggal 05 November 1952, kemudian pada tahun 1964 telah menjadi Penghubung Bupati dari Tenggarong di Barong Tongkok. Pada proses selanjutnya banyak pihak yang terlibat dan berjasa pada beberapa tahun sebelumnya, sehingga pada tanggal 04 Oktober 1999, lahirnya Udang-Undang No. 47 secara konkret bersama-sama Kabupaten Kota lainnya dibentuklah Kabupaten Kutai Barat oleh Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah, dengan melantik Pejabat Bupati Ir. Rama A Asia pada tanggal 12 Oktober 1999 di Jakarta. Kemudian dilanjutkan oleh Gubernur Kalimantan Timur dalam rangka meresmikan Kabupaten Kutai Barat serta melantik Aparatur Eselon II dan III pada tanggal 05 November 1999 di Sendawar.

Setelah berjalan sebagaimana harapan semua pihak, dengan mengacu pada segala aturan yang berlaku, maka melalui berbagai upaya terbentuklah Lembaga Legislatif yang pertama dengan dilantiknya Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kutai Barat pada tanggal 15 Desember 2000. Lebih lanjut Lembaga tersebut lalu menindaklanjuti dengan melaksanakan pemilihan unsur pimpinan dan terpilihlah Bapak Drs. Y. Juan Jenau, MBA sebagai Ketua DPRD Kabupaten Kutai Barat yang pertama.

Dalam rangka mengemban amanah rakyat, maka Lembaga Legislatif melaksanakan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati, dan hasil pemilihan tersebut secara demokratis menghasilkan pasangan sebagai pemenang dan dilantik pada Tanggal 19 April 2001 sebagai Bupati dan Wakil Bupati pertama Kabupaten Kutai Barat.

Setelah terbentuknya Kabupaten dan dilantiknya Bupati dan Wakil Bupati, sehingga banyak pihak menginginkan agar rentetan fakta sejarah yang ada dapat dijadikan sebagai hari jadinya Kabupaten Kutai Barat. Untuk itu, maka pada tanggal 03 November 2001, telah diadakan Diskusi yang dihadiri oleh berbagai unsur dan hasilnya menyepakati bahwa tanggal “05 NOVEMBER“ adalah sebagai HARI JADINYA KABUPATEN KUTAI BARAT dan kemudian lalu dikukuhkan dengan Peraturan Daerah Nomor: 17 Tahun 2002 tertanggal 04 November Tahun 2002.

Sebagai wujud pelaksanaan Roda Pemerintahan, maka selain melaksanakan berbagai kegiatan Pembangunan dan pelayanan bagi masyarakat, diperlukan juga berbagai Fasilitas terutama Perkantoran sebagai Wadah pelayanan publik. Ketika merencanakan Pembangunan Komplek Perkantoran tersebut, disini berhadapan dengan kendala sulitnya memperoleh lahan yang representative, sehingga terbentuklah Panitia yang bertugas khusus untuk menyediakan lokasi perkantoran sebagaimana Surat Keputusan Bupati Kutai Barat tertanggal 11 Juni 2001 nomor:004.1/K.049/2001 Tentang Pembentukan Panitia Pengadaan Tanah dan Pembangunan untuk pelaksanaan Pembangunan Ibu Kota Kabupaten Kutai Barat Sendawar, dan tugas khusus“Menyiapkan Tata Ruang untuk Pembangunan Kutai Barat : Kantor DPRD, Kantor Dinas/Instansi dan Rumah Pejabat Pemerintah Daerah”, yang dipimpin oleh Wakil Bupati (Ismail Thomas) waktu itu.

Setelah menempuh berbagai upaya dan memilih dari beberapa alternative yang ada, pada akhirnya melalui Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kutai Barat Bapak Ir. Syahruni (Alm) dan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan Timur ( Bapak Ir. H. Sofyan Alex ), telah bersepakat melalui Berita Acara Penyerahan secara tertulis untuk lahan pertanian seluas 35 Ha.

Mengingat luas lahan tersebut dipandang belum cukup, maka dihimpunlah sejumlah warga masyarakat hingga memperoleh tambahan lahan 100 Ha. Dan dari luasan tersebut seluas 135 Ha, dengan rencana penggunaannya adalah 84 Ha sebagai “Hutan Kota” sedangkan 51 Ha untuk lokasi Perkantoran Pemerintah Kabupaten Kutai Barat.

Pada tahun 2004 setelah pelaksanaan Pemilihan Umum berjalan sesuai aturan dan ketentuan yang berlaku, serta bias diterima oleh semua partai politik, lalu terbentuklah masa bakti yang kedua bagi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Kutai Barat, yang merupakan keberhasilan dari perjuangan masing-masing partai politik.

Setelah berlakunya UU Nomor 32 Tahun 2005 khususnya pasal 56 s/d 109, Tentang Dasar Pemilihan Kepala Daerah secara langsung dan tidak lagi oleh Lembaga Legislatif, serta berdasarkan pelaksanaan PP Nomor 06 Tahun 2006, Tentang Pemilihan, Pengangkatan, Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, maka dilaksanakannya PEMILIHAN KEPALA DAERAH KABUPATEN KUTAI BARAT sesuai ketentuan yang berlaku pada tanggal 20 Februari 2006 secara langsung oleh masyarakat dengan pasangan yang terpilih adalah BAPAK ISMAIL THOMAS, SH dan H. DIDIK EFFENDI, S. SOS sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kutai Barat periode masa bakti Pemerintahan yang kedua. Pengukuhannya melalui siding Paripurna dan Pelantikannya oleh Gubernur Kalimantan Timur atas nama Menteri Dalam Negeri pada Tanggal 19 April 2006.

Dalam menjalankan pelaksanaan Pemerintahan pada masa kedua ini, maka pasangan Bupati dan Wakil Bupati tetap melanjutkan pelaksanaan Pembangunan dengan Visi :

”Kutai Barat yang masyarakatnya sejahtera, cerdas, sehat, dan produktif berbasiskan ekonomi kerakyatan.”

Sejarah Kabupaten Kutai Timur

bupaten Kutai Timur adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Kalimantan Timur. Ibu kota kabupaten ini terletak di Sangatta. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 35.747,50 km² atau 17% dari luas Provinsi Kalimantan Timur dan berpenduduk sebanyak 169.564 jiwa (2004) dengan kepadatan 4,74 jiwa/km² dan pertumbuhan penduduk selama 4 tahun terakhir rata-rata 4,08% setiap tahun.

Kabupaten Kutai Timur merupakan salah satu wilayah hasil pemekaran dari Kabupaten Kutai yang dibentuk berdasarkan UU No. 47 Tahun 1999, tentang Pemekaran wilayah Provinsi dan Kabupaten. Diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 28 Oktober 1999.

Geografi

Dengan luas wilayah 35.747,50 km², Kutai Timur terletak di wilayah khatulistiwa dengan koordinat diantara 115°56’26”-118°58’19” BT dan 1°17’1″ LS-1°52’39” LU.

Batas-batas wilayah

  • Utara : Kabupaten Berau
  • Selatan : Kabupaten Kutai Kartanegara
  • Timur : Selat Makassar.
  • Barat : Kabupaten Kutai Kartanegara.

Topografi

Kutai Timur memiliki keadaan topografi yang bervariasi, mulai dari daerah dataran seluas 536.200 ha, lereng bergelombang (1,42 juta ha), hingga pegunungan (1,6 juta ha), tersimpan potensi batu bara 5,35 miliar ton.

Pemerintah dan layanan publik

Bupati

Kutai Timur sejak pembentukannya baru memiliki dua orang bupati, pertama kali adalah Awang Farouk Ishak sebagai bupati dengan wakilnya Mahyudin. Pada saat Awang Farouk mundur dari jabatan bupati waktu mencalonkan diri menjadi Gubernur Kaltim, ia digantikan oleh Mahyudin. Kemudian pada Pilkada Bupati Kutai Timur, Awang Farouk terpilih kembali menjadi bupati periode 2005-2010.

Kecamatan

Terdapat 18 kecamatan di Kutai Timur saat ini.

Tempat menarik

Secara umum tempat menarik untuk dikunjungi di Kutim terbagi dalam 3 wilayah, yaitu Zona Sangatta, Zona Sangkulirang dan Zona Muara Wahau, hal ini lebih dikarenakan kedekatan lokasinya daripada batas administratif.

Daftar lokasi tersebut diantaranya adalah:

Zona Sangatta

Wilayah ini seolah menjadi gerbang bagi pengunjung yang akan masuk ke Sangatta melalui jalur darat. Dicirikan oleh dominasi objek wisata alam, dengan Taman Nasional Kutai-nya yang sudah terkenal, wilayah ini juga “diuntungkan” dengan keberadaan kota Sangatta sebagai ibukota kabupaten yang memiliki fasilitas penunjang yang jauh lebih baik dibandingkan wilayah-wilayah lainnya di Kutai Timur. Namun sangat disayangkan bahwa hutan lebat yang menyejukkan perjalanan menuju kota Sangatta sekarang harus merana karena habis ditebangi oleh penduduk yang mengaku sebagai “putera daerah” yang seharusnya ikut membantu melestarikan keindahan hutan Taman Nasional Kutai Timur, tetapi sekarang justeru menghancurkannya.

Secara umum terdapat:

  1. Taman Nasional Kutai
    di dalamnya terdapat pula:

    • Sangkimah, dimana terdapat jembatan (disebut Jembatan Sangkimah) sepanjang lebih kurang 1 km menjorok masuk ke tengah hutan hujan tropis dan bermuara pada suatu fosil hidup, yaitu pohon ulin besar yang diperkirakan berumur sekitar 1000 tahun.
    • Mentoko, di kawasan ini terdapat sebuah pondok penelitian, disebut Pondok Penelitian Mentoko, yang didirikan oleh Akira Suzuki, seorang ahli biologi dari Jepang yang mempelajari kehidupan orang utan di daerah ini.
    • Pantai Teluk Kaba
    • Pantai Teluk Lombok dan Teluk Perancis.
  2. Pantai Tanjung Bara
    Pantai ini berada di dalam wilayah PT. Kaltim Prima Coal (KPC) yang merupakan salah satu perusahaan penambangan batubara terbesar yang berada di wilayah Kalimantan Timur.

Zona Sangkulirang

Objek dan daya tarik wisata di zona ini umumnya ditandai dengan ciri alam, yaitu hutan, gua, air panas, sungai, pantai dan pulau-pulau kecil yang tersebar di Kecamatan Sangkulirang. Garis pantai yang panjang dan potensi perairan (laut maupun sungai) yang besar menambah daya tarik wilayah ini terlebih dengan adanya daya tarik yang unik yang berbeda dengan wilayah lainnya, seperti gua, pulau, pantai, laut dan air panas. Namun seperti juga wilayah lain di Kutai Timur, aksesbilitas (melalui darat) masih menjadi masalah yang utama untuk wilayah Sangkulirang. Sementara ini transportasi air / sungai dengan perahu masih mendominasi perangkutan di Sangkulirang.[7]

Secara umum terdapat:

  1. Desa Benua Baru
  2. Pulau Birah-Birahan, merupakan tempat bertelur penyu dan tempat bertelur serta migrasi sejenis burung putih pada saat bulan-bulan angin laut selatan (yaitu bulan agustus, september dan oktober)
  3. Pantai Jepu-Jepu, Bual-Bual dan Selangkau
  4. Desa Pengadan, dimana sebagian besar penduduknya adalah petani sarang burung walet. Juga terdapat gua-gua yang sangat menarik untuk dikunjungi, baik karena keindahannya (stalagtit dan stalagmit) serta terdapat lukisan-lukisan dinding berupa gambar negatif tangan manusia dan hewan dari Zaman Batu (Stone Age). Diantaranya gua-gua itu yang dibuka untuk umum adalah:
    • Gua Ampanas dan
    • Gua Mardua

Zona Muara Wahau

Objek dan daya tarik wisata di wilayah ini dicirikan oleh alam pedalaman hutan dan sungai, dengan budaya sungainya yang masih cukup kental. Keberadaan gunung batu Kongbeng merupakan salah satu daya tarik lain yang unik di wilayah ini selain dari desa-desa sepanjang sungai Wahau/Telen.

Secara umum terdapat:

  1. Desa Muara Wahau
  2. Desa Miau Baru, desa yang masih tetap mempertahankan tradisi budaya Dayak dalam kehidupan keseharian mereka, seperti berladang dan mencari ikan untuk kelangsungan hidup.
  3. Gunung Kombeng, yang terletak di Desa Pantun
  4. Desa-desa Sepanjang Sungai Wahau/Telen, seperti:
    • Desa Jukayak, merupakan salah satu desa tertua di kecamatan Muara Wahau.
    • Desa Long Segar
    • Desa Long Noran
    • Desa Batu Ampar

Transportasi

Darat

Transportasi darat dapat ditempuh 2,5 – 3 jam dari Samarinda dan 45 menit dari Bontang.

Udara

Untuk transportasi udara terdapat 2 pelabuhan udara yaitu KPC di Tanjung Bara dan pelabuhan udara Pertamina di Sangkimah yang dapat didarati pesawat Cassa dengan kapasitas 21 penumpang. Transportasi udara dapat ditempuh 1 jam perjalanan dari Bandara Sepinggan, Balikpapan.

Laut

Pelabuhan laut sebagai prasarana transportasi laut saat ini hanya untuk melayani KPC, sedangkan Pelabuhan Maloy yang dipersiapkan untuk menampung aktivitas kawasan agroindustri Maloy dan daerah sekitarnya (hinterland). Sedangkan pelabuhan yang melayani kegiatan masyarakat yaitu pelabuhan sungai yang berada di sungai Sangatta di kota Sangatta.

Lain-lain

Perbankan dan Asuransi

Berikut adalah daftar bank dan asuransi yang membuka cabangnya di Sangatta.

  • BRI Cabang Sangatta
  • BPD Kaltim Cabang Sangatta
  • BNI 46 Cabang Sangatta
  • Bank Mandiri Cabang Sangatta
  • Bank Danamon Kantor Sangatta sejak 12 Januari 2007
  • BPR Dana Artha Cabang Sangatta
  • Bank Mini Cabang Sangatta
  • Asuransi Bumi Putera
  • Asuran Jiwasraya
  • Asuransi Jiwa Mubarakah

Sejarah Kota Bontang

Dalam perjalanan sejarah, Bontang yang sebelumnya hanya merupakan perkampungan yang terletak di daerah aliran sungai, kemudian mengalami perubahan status, sehingga menjadi sebuah kota. Ini merupakan tuntutan dari wilayah yang majemuk dan terus berkembang.

Pada awalnya, sebagai kawasan permukiman, Bontang memiliki tata pemerintahan yang sangat sederhana. Semula hanya dipimpin oleh seorang yang dituakan, bergelar Petinggi di bawah naungan kekuasaan Sultan Kutai di Tenggarong. Nama-nama Petinggi Bontang tersebut adalah: Nenek H Tondeng, Muhammad Arsyad yang kemudian diberi gelar oleh Sultan Kutai sebagai Kapitan, Kideng, dan Haji Amir Baida alias Bedang.

Bontang terus berkembang sehingga pada 1952 ditetapkan menjadi sebuah kampong yang dipimpin Tetua Adat. Saat itu kepemimpinan terbagi dua: hal yang menyangkut pemerintahan ditangani oleh Kepala Kampung, sedangkan yang menyangkut adat-istiadat diatur oleh Tetua Adat

Jauh sebelum menjadi wilayah Kota Administra­tif, sejak 1920, Desa Bontang ditetapkan menjadi ibu kota kecamatan yang kala itu disebut Onder Distrik van Bontang, yang diperintah oleh seorang asisten wedana yang bergelar Kiyai.

Adapun Kyai yang pernah memerintah di Bontang dan masih lekatdalam ingatan sebagian penduduk adalah: Kiyai Anang Kempeng, Kiyai Hasan, Kiyai Aji Raden, Kiyai Anang Acil, Kiyai Menong, Kiyai Yaman, dan Kiyai Saleh.

Sebelum menjadi sebuah kota,status Bontang meningkat menjadi kecamatan , dibawah pimpinan seorang asisten wedana dalam Pemerintahan Sul­tan Aji Muhammad Parikesit, Sultan Kutai Kartanegara XIX (1921-1960), setelah ditetapkan Undang Undang No 27 Tahun 1959 tentang pembentukan Daerah Tk II di Kalimantan Timurdengan menghapus status Pemerintahan Swapraja.

Pada 21 Januari 1960, berdasarkan UU No 27 Tahun 1959 , dalam Sidang istimewa DPRD Istimewa Kutai, Kesultanan Kutai dihapuskan dan sebagai gantinya dibentuk Kabupaten Daerah Tk II Kutai yang meliputi 30 kecamatan. Salah satu kecamatan itu adalah Bontang yang berkedudukan di Bontang Baru, meliputi beberapa desa, yaitu Desa Bontang, Santan Ulu, Santan Ilir, Santan Tengah, Tanjung Laut, Sepaso, Tabayan Lembab, Tepian Langsat, dan Keraitan.

Bontang kemudian mengalami pertumbuhan yang pesat. Hal itu mulai terlihat pada 1975, yang disebabkan karena dijadikannya Bontang sebagai daerah industri. Pada 1974 berdiri PT Badak yang mengelola industri gas alam. Tiga tahun kemudian, 1977, menyusul berdirinya PT Pupuk Kaltim yang mengelola industri pupuk dan amoniak.

Dengan kemajuan yang begitu pesat karena adanya pembangunan sarana dan prasarana yang berskala nasional, bahkan internasional, Pemerintah Daerah mempertimbangkan peningkatan status Bontang dari Kecamatan menjadi Kota Administratif yaitu melalui Peraturan Pemerintah No 20 Tahun 1989. Dengan demikian dibentuklah wilayah kerja Pembantu Bupati Kepala Daerah Tk II Kutai Wilayah Pantai Kecamatan Bontang akhirnya diusulkan Gubernur Kaltim untuk ditingkatkan menjadi Kota Administratif (Kotif).

Pada 1989, dengan PP No. 22 Tahun 1988 Kecamatan Bontang disetujui menjadi Kota Admin-istratif dan diresmikan pada 1990 dengan membawahi Kecamatan Bontang Utara (terdiri dari Bontang Baru, Bontang Kuala, Belimbing, Lok Tuan) dan Selatan (Sekambing, Berbas Pantai, Berbas Tengah, Satimpo, dan Tanjung Laut). Pada 12 Oktober 1999, Kotif kemudian berubah menjadi Kota Otonom, berdasarkan Undang Undang No 47 Tahun 1999.

Guna melaksanakan tugas kepemerintahan saat itu ditunjuk Drs Ishak Karim sebagai Walikota Kotif Bontang yang pertama. Sebagai perkembangan dari Daerah Tk II Kabupaten Kutai, maka melalui Undang­Undang No 47 Tahun 1999 tentang pemkatkan menjadi Kota Bontang. Sebagai pelaksana tugas ditunjuk Drs Fachmurniddin yang melaksa­nakan tugas kepemerintahan dan pelaksanaan persiapan pemilihan walikota definitif.

Sebelumnya juga telah dibentuk Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bontang oleh Walikota melalui penetapan calon yang diajukan oleh masing-masing partai berdasarkan perolehan kursi pada Pemilu 1999. Setelah persyaratan anggota dewan terpenuhi, maka ditetapkan dan dilantik para anggota dewan yang terdiri dari 25 orang dengan ketua H Rusdin Abdau.

Walikota Bontang pertama dari pemilihan anggota dewan itu adalah dr H Andi Sofyan Hasdam, SpS dari Partai Golkar dan H Adam Malik sebagai Wakil Walikota yang berasal dari PPP. Mereka dilantik dan diambil sumpah jabatan pada 1 Maret 2000.

Penajam Paser Utara

Daerah Penajam Paser Utara secara formal awalnya masuk dalam wilayah Kabupaten Pasir, namun atas inisiatif dan prakarsa sejumlah masyarakat yang akhirnya mengkristal menjadi sebuah tim yang bernama Tim Sukses Wilayah Utara Menuju Kabupaten yang menginginkan agar masyarakat di empat wilayah kecamatan yang ada di wilayah ini dapat hidup lebih aman, makmur dan sejahtera lahir bathin, akhirnya tim ini mendesak pada Pemerintah pusat dan DPR-RI untuk menetapkan daerah ini menjadi sebuah Kabupaten baru di Kaltim ini dan terpisah dari Kabupaten induk.

Akhirnya setelah melalui perjuangan panjang yang dilakukan oleh masyarakat yang bercita–cita untuk dapat hidup lebih sejahtera dapat tercapai. Ini ditandai dengan terbentuknya Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara secara Yuridis formal berdasarkan Undang-undang Nomor 7 tahun 2002 yang berisi tentang Pembentukan Kabupaten Penajam Paser Utara. Dengan dikeluarkannya Undang-undang nomor 7 tahun 2002 ini, maka empat kecamatan yakni Kecamatan Penajam, Waru, Babulu dan Sepaku telah resmi menjadi satu dalam wilayah kabupaten yakni, Kabupaten Penajam Paser Utara yang merupakan Kabupaten ke-13 di Provinsi Kaltim dengan Penjabat Bupatinya, Drs H Yusran Msi yang mempunyai masa tugas mulai 10 Juli 2002 sampai 10 Juli 2003.

Benuo Taka yang artinya Daerah Kita atau Kampung Halaman Kita adalah kata semboyan pada lambang daerah Kabupaten Penajam Paser Utara. Semboyan ini mengadopsi dari bahasa Suku Paser yang bermakna bahwa Kabupaten Penajam Paser Utara terdiri dari berbagai suku, ras, agama dan budaya namun tetap merupakan satu kesatuan ikatan kekeluargaan.

Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara dibentuk melalui UU No 7 Th 2002 tgl 10 April 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Penajam Paser Utara di Kalimantan Timur.

PETA WILAYAH

Luas Wilayah Daerah.
Daerah Kabupaten Penajam Paser Utara terdiri dari:
a. Pemukiman : 4,237 Ha.
b. Pertanian : 64,742 Ha.
– Tanaman Pangan dan Hortikultura :
– Peternakan :
– Perikanan : 3,823 Ha.
@ Perikanan Darat :
@ Perikanan Laut :
c. Perkebunan :
d. Hutan : 202,946 Ha.
e. Lain -lain : 57,558 Ha.
Luas keseluruhan wilayah yang ada : ? 3.333,06 Km ?.

Batas Administrasi

Daerah/wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara secara Yuridis Formal sesuai dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Penajam Paser Utara di Provinsi Kalimantan Timur berbatasan dengan :
a. Sebelah Utara : Kecamatan Loa Kulu dan Kecamatan Loa Janan Kabupaten Kutai Kertanegara.
b. Sebelah Timur : Kecamatan Samboja Kabupaten Kutai Kertanegara, Kota Balikpapan dan Perairan Selat Makasar.
c. Sebelah Selatan : Kecamatan Long Kali Kabupaten Pasir dan Perairan Selat Makasar.
d. Sebelah Barat : Kecamatan Bongan Kabupaten Kutai Barat dan Kecamatan Long Kali Kabupaten Pasir.

Pemerintahan Wilayah di Daerah Penajam Paser Utara
Daerah Kabupaten Penajam Paser Utara terdiri dari 4 Kecamatan, 24 Kelurahan dan 23 Desa, yang diantaranya meliputi:
1. Kecamatan Penajam yang terdiri dari 19 Kelurahan, 2 Desa dan 178 Rukun Tetangga (RT)
2. Kecamatan Waru yang terdiri dari 1 Kelurahan, 2 Desa dan 32 Rukun Tetangga (RT)
3. Kecamatan Babulu terdiri dari 10 Desa dan 148 Rukun Tetangga (RT)
4. Kecamatan Sepaku terdiri dari 4 Kelurahan, 9 Desa dan 221 Rukun Tetangga (RT)

Jumlah Penduduk dan Kepadatan Kenduduk/Km2
Saat Terbentuknya Pemerintahan Kabupaten Penajam Paser Utara pada tahun 2002, jumlah penduduk Daerah Kabupaten Penajam Paser Utara ? 109.988 Jiwa terdiri dari :
a. Laki – laki : 57.128 Jiwa.
b. Perempuan : 52.860 Jiwa.
Dengan kepadatan penduduk pada tahun 2002: ? 33 Jiwa/Km2.
Kemudian dari hasil data yang diperoleh pada Pelaksanaan Pendataan Pemilih Penduduk Berkelanjutan (P4B) tahun 2003 diperoleh data jumlah penduduk secara keseluruhan: 117,063 Jiwa, yang masing-masing jumlah di tiap kecamatan adalah sebagaimana berikut :
a. Kecamatan Penajam dengan jumlah penduduk secara keseluruhan: 49, 716
b. Kecamatan Waru dengan jumlah penduduk secara keseluruhan: 12,600
c. Kecamatan Babulu dengan jumlah penduduk secara keseluruhan: 24,383
d. Kecamatan Sepaku dengan jumlah penduduk secara keseluruhan: 30,361

Pendapatan Perkapita.
Pendapatan penduduk Daerah Kabupaten Penajam Paser Utara tahun 2003 perkapita ? sebesar Rp. 4.765.007 /Tahun atau sekitar $ 475 /Tahun.

Sejarah Kabupaten Kutai Kartanegara

Kabupaten Kutai merupakan kelanjutan dari Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Setelah Republik Indonesia berdiri, pada tahun 1947 Kesultanan Kutai Kartanegara dengan status Daerah Swapraja Kutai masuk kedalam Federasi Kalimantan Timur bersama-sama daerah Kesultanan lainnya seperti Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur dan Pasir. Kemudian pada 27 Desember 1949 masuk dalam Republik Indonesia Serikat.

Daerah Swapraja Kutai diubah menjadi Daerah Istimewa Kutai yang merupakan daerah otonom/daerah istimewa tingkat kabupaten berdasarkan UU Darurat No.3 Th.1953.

Berdasarkan UU No.27 Tahun 1959, status Daerah Istimewa Kutai dihapus dan daerah ini dibagi menjadi 3 Daerah Tingkat II, yakni:
1. Kotamadya Balikpapan dengan ibukota Balikpapan
2. Kotamadya Samarinda dengan ibukota Samarinda
3. Kabupaten Kutai dengan ibukota Tenggarong

Pada tahun 1995 Kabupaten Kutai menjadi salah satu Daerah Percontohan Pelaksanaan Otonomi Daerah, berdasarkan PP No.8 Tahun 1995 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan Kepada Daerah Tingkat II Percontohan.

Pada tahun 1999, wilayah Kabupaten Kutai dimekarkan menjadi 4 daerah otonom berdasarkan UU No.47 Th.1999, yakni:
1. Kabupaten Kutai dengan ibukota Tenggarong
2. Kabupaten Kutai Barat dengan ibukota Sendawar
3. Kabupaten Kutai Timur dengan ibukota Sangatta
4. Kota Bontang dengan ibukota Bontang

Istilah Kabupaten Kutai Induk sering digunakan untuk membedakan antara Kabupaten Kutai hasil pemekaran dengan Kabupaten Kutai yang lama. Pada Musyawarah Nasional yang pertama APKASI (Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia) yang diadakan di Tenggarong pada tahun 2000, Presiden RI Abdurrahman Wahid yang membuka Munas tersebut mengusulkan agar Kabupaten Kutai hasil pemekaran menggunakan nama Kabupaten Kutai Kartanegara, mengingat kota Tenggarong juga merupakan ibukota dari Kesultanan Kutai Kartanegara.

Tanggal 23 Maret 2002, Presiden Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri menetapkan penggunaan nama Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Peraturan Pemerintah RI No. 8 Tahun 2002 tentang “Perubahan Nama Kabupaten Kutai Menjadi Kabupaten Kutai Kartanegara”.

Sejarah Kota Balikpapan

Nama Balikpapan kurang jelas kapan berasal dan apa makna nama itu. Menilik susunan katanya dapat dimasukkan ke dalam asal kata bahasa Melayu. Menurut buku karya F. Valenijn pada tahun 1724, menyebut suatu daerah di hulu sebuah sungai di sebuah Teluk sekitar tiga mil dari pantai, desa itu bernama BILIPAPAN. Lepas dari persoalan ucapan maupun pendengaran, jelas bahwa nama tersebut dikaitkan dengan sebuah komunitas pedesaan di teluk yang sekarang dikenal dengan nama Teluk Balikpapan.

Terdapat beberapa versi terkait dengan asal-usul nama Balikpapan :

1. Versi Pertama ( Sumber : Buku 90 Tahun Kota Balikpapan yang mengutip buku karya F. Valenijn tahun 1724 )

Menurut legenda asal nama Balikpapan adalah akrena sebuah kejadian yang terjadi pada tahun 1739, sewaktu dibawah Pemerintahan Sultan Muhammad Idris dari Kerajaan Kutai, yang memerintahkan kepada pemukim-pemukim di sepanjang Teluk Balikpapan untuk menyumbang bahan bangunan guna pembangunan istana baru di Kutai lama. Sumbangan tersebut ditentukan berupa penyerahan sebanyak 1000 lembar papan yang diikat menjadi sebuah rakit yang dibawa ke Kutai Lama melalui sepanjang pantai. Setibanya di Kutai lama, ternyata ada 10 keping papan yang kurang (terlepas selama dalam perjalanan) dan hasil dari pencarian menemukan bahwa 10 keping papan tersebut terhanyut dan timbul disuatu tempat yang sekarang bernama “Jenebora”. Dari peristiwa inilah nama Balikpapan itu diberikan (dalam istilah bahasa Kutai “Baliklah – papan itu” atau papan yang kembali yang tidak mau ikut disumbangkan).

2. Versi Kedua ( Sumber : Legenda rakyat yang dimuat dalam buku 90 Tahun Kota Balikpapan )

Menurut legenda dari orang-orang suku Pasir Balik atau lazim disebut Suku Pasir Kuleng, maka secara turun menurun telah dihikayatkan tentang asal mula nama “Negeri Balikpapan”. Orang-orang suku Pasir Balik yang bermukim di sepanjang pantai teluk Balikpapan adalah berasal dari keturunan kakek dan nenek yang bernama ” KAYUN KULENG dan PAPAN AYUN “. Oleh keturunannya kampung nelayan yang terletak di Teluk Balikpapan itu diberi nama “KULENG – PAPAN” atau artinya “BALIK – PAPAN” (Dalam bahasa Pasir, Kuleng artinya Balik dan Papan artinya Papan) dan diperkirakan nama negeri Balikpapan itu adalah sekitar tahun 1527.

Hari Jadi Kota Balikpapan

Hari jadi Kota Balikpapan ditentukan pada tanggal 10 Februari 1897. Penetapan tanggal ini merupakan seminar sejarah Kota Balikpapan tanggal 1 Desember 1984. Tanggal 10 Februari 1897 ini adalah tanggal Pengeboran pertama minyak di Balikpapan yang dilakukan Perusahaan Mathilda sebagai dari pasal-pasal kerjasama antara J.H Menten dengan Mr. Adam dari Firma Samuel dan CO.

Nilai Budaya Kota Balikpapan

Kota Balikpapan berawal sejak ditenukannya sumur minyak oleh Matilda pada tanggal 10 Februari 1897. Sejak saat itulah Kota Balikpapan diminati oleh masyarakat luar karena terkenal sebagai kota minyak. Berbagai suku di Indonesia khususnya Kalimantan sendiri, Sulwesi dan Jawa datang untuk mencari nafkah di Balikpapan.

Perkembangan Kota Balikpapan semakin pesat, masyarakat Kota Balikpapan secara langsung terjadi akulturasi berbagai budaya, berbagai suku di Indonesia, ini bisa tercermin dari bahasa pengantar yang digunakan warga Balikpapan adalah yaitu bahasa Indonesia baik sekolah, rumah, tempat kerja dan lain-lain.

Pada kurun waktu yang bersamaan keagamaan atnis yang datang diikuti pula dengan berbagai adat istiadat dan agama. Adat istiadat dari berbagai ertnis sangat terbina dengan baik, demikian pula penganut agama yang dipeluknya. Hal ini didukung oleh adanya faktor akulturasi budaya, sehingga hubungan masyarakat terjalin harmonis secara turun temurun. Yang menjadi khas Kota Balikpapan adalah tidak terdapat dominasi salah satu suku, baik dari suku asli Kalimantan maupun suku pendatang, sehingga perekat bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia.

Sebagai wujud implementasi dalam rangka memelihara, menjaga dan meningkatkan integritas, kondusif Kota Balikpapan, sesuai motto Balikpapan Kubangun, Kujaga dan Kubela.

Balikpapan sebagai kota yang strategis dan kondusif, sangat didukung oleh masyaraat, terutama dalam keramahan dan kebersamaaan warga kota dalam keragaman suku / etnis, budaya, nilai kekerabatan antar suku sangat kental, sebagai modal utama mengantarkan Balikpapan sebagai masyarakat yang madani, yang memiliki masyarakat majemuk yang hidup rukun, harmonis, berperadaban modern, maju serta mamiliki nilai-nilai moralitas spiritual, agama dan kepercayaan masing-masing.

Nilai guyub / kebersamaan yang tinggi mampu mengikat rasa persaudaraan antar suku, menjadikan pondasi terbangunnya kondisi terus terjaga, menjadikan Kota Balikpapan sebagai Kota Bersih, Indah, Aman dan Nyaman.

Budaya bersih dan wawasan lingkungan, juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan pada umumnya telah menjadi ciri masyarakat Balikpapan, terakomodir secara profesional dalam program Pemerintah Kota Balikpapan, yakni : CLEAN, GREEN and HEALTHY (Bersih, Hijau dan Sehat).

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.